![]() |
Aksioma Masalah |
Sehebat
apapun, manusia dan segala yang ada pada dirinya adalah milik Allah. Itu yang
paling melekat dalam hati dari jawaban Ayah kemarin. Sambil menapaki langkah di
perjalanan hari Senin yang membingungkan itu, aku mentafakkuri itu semua.
Terlalu sok barangkali untuk dikatakan tafakkur. Lebih tepatnya mungkin
mencoba memahami.
Sepertinya,
telaga pemahaman kian menjernih untuk diselami. Aku nggak tahu juga sih
Yah, apakah yang kutangkap dari perenungan itu betul-betul pemahaman, atau
justru menyimpang. Yang jelas, aku menemukan ketenangan. Dan tenang itu,
datangnya dari Allah, kan? Setidaknya itu indikasi bahwa apa yang tercatat
dalam pikiranku bukan sesuatu yang harus ditinggalkan.
Apa
yang aku pahami ? Tidak banyak. Tapi
agaknya, cukup menjawab pertanyaan yang menghujam benak beberapa hari terakhir ...
Manusia
diuji dengan sebuah permainan yang kompleks dalam kehidupan dunia ini. Yang
hasilnya, akan menentukan nasibnya di alam ukhrawi. Tanah yang menjadi ‘bahan
baku’-nya, kemudian dibekali dengan aneka atribut kelebihan, sebagai selimut
pelindung bagi kelemahan dan kehinaannya, juga sebagai senjata dalam jihadnya
di dunia.
Dari
gumpal-gumpalan tanah yang tadinya sama “hina” dan “buruk”-nya, beberapa
dikaruniakan kelebihan yang lebih mendominasi sehingga hampir seluruh
kekurangannya tertutupi. Mereka diuji kerendahan hatinya, dan sejauh apa mereka
bisa menebar manfaat pada dunia.
Beberapa
yang lain, diuji kesyukurannya, dengan berbagai kekurangan. Selimut kelebihan
mereka, tampak lebih tipis, sehingga banyak kehinaan dan kelemahan yang tampak.
Dari situ, akan diketahui, apakah mereka lekas kufur nikmat dan menggugat
Tuhan, atau terus merenangi samudera syukur dan ketabahan?
لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Tidak
akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski hanya sebiji
dzarrah.
..لئن
شكرتم لأزيدنكم و لئن كفرتم ان عذابي لشديد..
(Siksa Neraka juga terbuka lebar bagi mereka yang
kufur nikmat)
Maka
2 janji itu adalah sedikit dari bukti keadilan. Ujian yang diberikan pada
manusia ada dua jenis : Bagi yang mampu, apakah dengan kemampuannya lekas
sombong ... Bagi yang tidak mampu, apakah dengan itu ia lekas kufur...
Maka
adakah alasan untuk iri dan dengki, jika semua kelebihan dan kekurangan adalah
bentuk ujian dalam menggapai satu tujuan yang sama dan bukan sebuah pemulyaan
atau penghinaan...? Punya cukup alasankah manusia untuk melestarikan keminderannya?
Serpong, 27 April 2015
21.07
21.07
Tidak tahu persis apakah yang aku tulis di atas betul atau salah. Yang
jelas, insya Allah ini adalah proses menuju kebenaran. Yah, bagaimana pendapat
Ayah?
Catatan:
Jangan lewatkan kata-kata insipiratif dari Sang Motivator Andrie Wongso yang satu ini: Menelisik Kesempatan Sukses dan Meraihnya.
Catatan:
Jangan lewatkan kata-kata insipiratif dari Sang Motivator Andrie Wongso yang satu ini: Menelisik Kesempatan Sukses dan Meraihnya.
Post a Comment for "Ketika Anak Usia 16 Tahun Menulis untuk Sang Ayah"